November 6, 2011

Fitting Room

Baru-baru ini saya berpergian bersama keluarga ke sebuah pusat perbelanjaan di kawasan selatan Jakarta. Tujuan utama: makan-makan dalam rangka ulang tahun abang saya. Setelah selesai makan kami mampir dulu ke sebuah department store, kita sebut saja dengan inisial D, untuk membelikan si pihak berulang tahun sebuah hadiah.

Tidak perlu lama-lama layaknya wanita berbelanja, akhirnya didapatlah sebuah celana yang nempel di hatinya. Sebagai konsumen yang baik dan berbakti pada bangsa, tentu pakaian atau celana baru yang akan dibeli harus dicoba dulu di fitting room, selanjutnya kita sebut saja ruang ganti walaupun sebetulnya terjemahan ini tidak tepat, supaya tidak salah ukuran.

Nah, ini dia yang membuat saya akhirnya tergerak menulis di blog ini walaupun tugas kuliah menumpuk belum dikerjakan (emang dasarnya males). Yaa...bentuk ruang gantinya ga sekeren yang ada di gambar sebetulnya, itu dapet dari googling kok supaya tulisan ini menghibur layaknya komik. Yang menarik dari ruang ganti di D tersebut adalah pihak pengelola menempelkan peraturan di koridornya.
Peraturan itu terdiri dari 5 pasal (hass, bahasanya pake 'pasal'). Tidak ada yang aneh ketika saya mulai membaca satu persatu pasal-pasalnya. Isinya hal-hal umum yang rata-rata konsumen sudah tahu. Tetapi, ada satu pasal yang menurut saya kontroversial:
"Pria dilarang masuk ke dalam ruang ganti wanita"
Man, itu kontroversial man! Saya tahu di situ ada ruang ganti untuk pria dan wanita. Dan pasal kontroversi itu hanya berbunyi begitu saja. Saya sedikit tersinggung. Tahu kenapa? Kalau ada pasal tersebut, seharusnya ada juga pasal yang berbunyi: "Wanita dilarang masuk ke dalam ruang ganti pria."

Sepertinya pasal tersebut adalah suatu bentuk pengejawantahan dari ke-su'udzon-an terhadap pria. (Pengejawantahan? Mau tahu artinya? Cari di KBBI daring)
Kalau pasalnya berbunyi seperti itu, berarti wanita boleh masuk ke ruang ganti pria? Lalu, kenapa pria tidak boleh masuk ke ruang ganti wanita? Diskriminatif! Maaf, berlebihan.
Atau, dari sudut pandang lain, berarti sama saja wanita dan pria bisa berada di dalam satu ruang ganti, tepatnya di ruang ganti pria, sambil......entah ngapain, suka-suka mereka.

Menurut saya ini perlu kita renungkan, saudara. Menurut analisis saya, adanya pasal tersebut tentu untuk mencegah terjadinya hal yang 'tidak-tidak' di dalam ruang ganti sehingga orang ke ruang ganti untuk hal yang 'iya-iya' saja. Tetapi, pelarangan hanya dibebankan kepada pria. Memang banyak pria yang 'nakal'. Namun, bukan berarti tidak ada wanita-wanita yang 'nakal'. Who knows? Hidung siapa?

Yah, ini hanya sekedar tulisan saja untuk menambah postingan saya di blog ini hehe. But, ajakan saya untuk merenungkan cerita ini serius lho. Bahwa 'kenakalan' itu bisa diidap oleh siapa saja. Tak selamanya pria selalu menjadi sumber 'kenakalan'.

Sekian keterangan dari saya. Terima kasih Yang Mulia.

October 7, 2011

Tidak Tahu



Beberapa hari belakangan ini saya sedang tidak punya ide untuk menulis sesuatu hal. Akhirnya saya pun tidak tahu mau menulis apa.

Agar pembaca ketahui (kalaupun ada yang membaca blog ini), saya sedang mengikuti suatu kompetisi yang membutuhkan fokus dan konsentrasi penuh. Cukup menyita waktu, pikiran dan tenaga. Untuk sementara ini, hidup saya sebagian besar hanya di depan laptop dan di ruang kuliah dan sisanya sedikit waktu untuk teman-teman dan wanita tersayang. Namun, ilmu yang dapat diambil juga sangat berharga. Yah, selalu ada pengorbanan untuk setiap pembelajaran.

Supaya tulisan ini tidak menjadi ajang curhatan atau postingan sampah, ada baiknya saya menginformasikan bahwa saya telah membuat sebuah akun di jejaring sosial Twitter. Bukan ikut-ikutan atau latah, tapi saya pikir Twitter membantu saya untuk mendapat informasi atau berita terhangat sehingga saya tidak perlu menunggu waktu pulang kuliah untuk membaca koran di rumah. Cukup mengaksesnya lewat telepon seluler hasil hibah milik saya di mana saja dan kapan saja.

Menimbang bahwa saya belum mandi dan ada tugas yang harus dikerjakan, maka saya berpandangan tulisan ini harus saya akhiri di sini.

September 9, 2011

Hmm...

Seorang kawan berkata,
"Mereka yang baik dapat berbalik menjadi jahat, apabila mereka tidak dihargai sebagaimana mestinya"

September 5, 2011

Lelaki Tua

Aku ingin bercerita tentang lelaki tua
Dahulu ia seorang perwira
Lelaki panutan keluarga

Anaknya mengenalkanku padanya
Sang anak bercerita kisah lama
Lelaki tua dan kekasih jiwanya selalu membersihkan baju anak-anaknya
Ya, mereka berdua, bersama-sama
Di pagi hari kala anak-anaknya pergi menimba ilmu

Aku bertemu dengannya, beberapa kali
Usianya telah senja
Kekasih jiwa telah lebih dulu menghadap Sang Pencipta
Sebuah luka baginya
Rambutnya memutih dan meranggas
Suaranya parau
Sebuah tongkat menopang jalannya, langkahnya berat dan pelan
Satu hal, aku selalu ingat senyumannya
Senyum yang hangat, damai, dibingkai dengan keriput wajahnya
Begitu menenangkan

Lelaki tua itu terus berkarya
Ia tetap berusaha menyekolahkan salah satu cucunya menjadi sarjana
Mimpi terakhirnya
Apa yang ia punya? Tak banyak
Ia tetap memberikan yang tak banyak itu

Tinggal sebuah tugas akhir yang menghalangi cucunya meraih sarjana
Namun, Pencipta memanggil lelaki tua pulang ke rumah yang baka

Sampai jumpa lelaki tua
Kau telah berjuang 
Kau mengakhirinya dengan baik

Aku bangga mengenalmu
Aku akan selalu rindu senyum itu

-Aku, salah satu cucumu-

September 2, 2011

Mie Instan dan Nasi Goreng

Maaf, saya tidak bermaksud memberitahukan resep kedua masakan yang menjadi judul di atas. Tulisan ini terinspirasi dari perbincangan dengan seorang saudara.

Kebanyakan dari anda pasti sudah pernah memasak mie instan sendiri (termasuk saya). Begitu mudahnya, bukan? Kita cuma perlu siapkan mangkok, air, dan panci. Dan mie instannya tentunya.
  • untuk memulainya, kita panaskan air di panci, tunggu hingga mendidih
  • lalu kita tuangkan bumbu-bumbu mie instan ke atas mangkok
  • begitu air mendidih, kita masukkan mie instan ke dalamnya 
....tunggu 3 menit....
  • kalo udah matang, mie instan tinggal dituangkan ke mangkok, digosok-gosok sampai berbusa (loh?). No, diaduk-aduk maksudnya biar bumbunya nyampur, dan...
JENGJENG! Jadilah mie instan yang siap dihabiskan. Cepet, enak, pas di perut.

Sekarang mari beralih ke nasi goreng.
Mungkin beberapa dari anda pernah memasak nasi goreng sendiri. Agak sulit, bukan? Kecuali anda....tukang nasi goreng. Oke, saya mungkin agak ngaco untuk menggambarkan secara runut cara memasak nasi goreng, jadi jangan praktekkan langsung apa yang saya tulis. Ada baiknya terlebih dahulu berkonsultasi ke dokter.

Secara garis besar, yang pasti kita harus menyiapkan nasinya, pancinya, piringnya, minyak goreng, telor, bawang merah, bawang putih, cabe, kecap manis, garam, mungkin sedikit gula dan sedikit merica.
  • (setahu saya) kita tumbuk dulu bawang merah dan bawang putihnya sampai halus
  • next step, cabenya diiris-iris tipis
  • terus ditumis di panci dengan minyak goreng sambil dicampur gula, merica, dan garam
  • terus telornya dicampur ke tumisan (kalo mau telor yang nyampur sama nasinya),
  • kalo udah wangi <--- ga jelas tolak ukurnya, masukkan nasi, lalu tuang kecap secukupnya,
  • aduk-aduk hingga nasinya panas dan bumbunya merata, dan....
TADAAA! Jadi deh nasi goreng. Ribet, riskan, penuh perjuangan.

Mari kita coba merenung....
Baiklah, jadi begini, lihat bagaimana waktu kita masak mie instan tersebut. Sangat mudah dan cepat

Lalu, lihat bagaimana waktu kita masak nasi goreng. Lebih sulit dibandingkan mie instan.
Dari langkah-langkah memasak nasi goreng di atas udah ada 2 kemungkinan luka-luka yang mungkin kita derita, kalo ga jari keiris pisau, ya tangan ikut ketumbuk pas lagi numbuk bawang. Belom lagi rasanya yang entah gimana gara-gara masalah garam. Bisa saja rasanya tidak beda-beda jauh sama nasi putih atau mungkin sebelas dua belas sama garam batu.
Dan masih banyak resiko lain yang tidak dapat kita duga, entah pancinya bocor gara2 minyaknya kepanasan dan sebagainya. Tapi, itu semua mebuat kita berpikir, bagaimana cara terbaik agar kita tidak mendapat luka-luka itu lagi.

Jadi, yang mau saya sampaikan adalah: segala hal yang berbau instan dapat membuat kita terlena (ooooh, ku terlena - dangdutan sejenak).
Keinstanan dapat membunuh kreativitas manusia. Hal-hal yang instan membuat kita malas berpikir, tidak mau repot, membuat hidup tidak berwarna, membuat kita sering cari aman sendiri saja dan yang paling buruk adalah membuat manusia jadi individualis #sotok.

Terkadang hal-hal yang konvensional dapat memberi pelajaran lebih kepada kita.
Contoh dari memasak nasi goreng tadi, jika jari kita teriris pisau tentu kita akan cari tahu bagaimana cara mengiris yang benar sehingga di lain waktu tidak teriris lagi, atau contoh lain berapa takaran garam yang pas sehingga rasa nasi gorengnya jadi maknyuuss, bukan rasa garam batu lagi.
Segala kesulitan dan luka yang kita dapatkan membuat hidup ini lebih berwarna, membuat hidup kita jadi lebih hidup.

Saya bukan orang yang anti kemajuan atau anti keinstanan, tapi saya tidak ingin kita jadi korban produk-produk instan.
Pilihan tersulit dapat membawa kita kepada hasil yang lebih baik. Sehingga di masa senja nanti kita dapat tersenyum dan berkata kepada diri sendiri:
"Saya mampu melalui pilihan-pilihan tersulit itu dan saya bangga kepada diri saya"

***
(Dicopy dari akun Facebook saya sendiri lagi dengan sedikit pengubahan oleh saya sendiri lagi)

September 1, 2011

Stand Your Ground

Saya hanya ingin menyampaikan sedikit pemikiran saya tentang hidup di ruang menulis ini. Ini hanya pemikiran saya untuk saat ini ya, jadi kalo suatu saat di masa depan saya tidak konsisten dengan apa yang saya tulis disini, harap maklum.

Kita lahir ke dunia dari rahim seorang ibu. Telanjang.
Lalu kita dirawat dan diasuh oleh kedua orangtua kita hingga kita bertumbuh dan berkembang.
Semakin bertambah umur kita, tanpa kita sadari, tuntutan dari orang lain terhadap diri kita semakin banyak: "kamu harus gini lho...." atau "kamu nanti begini ya supaya nanti bisa begitu trus kamu gini gitu deh..." dan sebagainya.

Akhirnya kita menjadi terpacu semangatnya untuk mengejar hal-hal yang dituntut itu, yang sebagian besar dari hal itu menyangkut harta benda, uang yang banyak, dan kehormatan.

Banyak dari kita sampai berjibaku, jungkir balik, roll depan, roll belakang, kayang dan sebagainya untuk mengejar uang atau jabatan. Sampai suatu saat sudah waktunya untuk bertemu Sang Pencipta.

Apa yang kita bawa?
TIDAK ADA.

Arwah kita terbang (entah ke mana, bukan urusan saya), tapi uang, status, jabatan dan tetek bengek lainnya tidak kita bawa ke dunia arwah sana.


Karena itu, menurut pendapat(an) saya, tidak baik terlalu ngotot mengejar uang, status, atau jabatan di atas tanah yang kita pijak ini.
Selama kita bisa bekerja, istri dan anak cukup makan, orang bahagia dengan keberadaan kita, bersyukurlah.
Kalaupun Tuhan kasih lebih, ya bersyukurlah lebih.

Jalani hidup ini, dengan cara kita masing-masing. Jadi diri kita sendiri, tidak terpengaruh tuntutan-tuntutan dari luar.
Kita orang merdeka. Kita bebas memiliki pendirian.

Segala hal mengejar harta itu sia-sia. Terlebih jika dilakukan dengan cara-cara curang dan picik.

(Dicopy dari akun Facebook saya sendiri dengan sedikit pengubahan oleh saya sendiri)

August 31, 2011

Just Launched!

Voila!
Akhirnya saya membuat blog.


Apa yang memicu saya sehingga akhirnya membuat sebuah blog?
  • Saya pikir menulis adalah suatu kebiasaan yang baik. Tulisan adalah salah satu saluran untuk menumpahkan pemikiran-pemikiran dan ide serta gagasan dari si penulis, sehingga pemikiran, ide, atau gagasan tersebut tidak terkurung di benak penulis saja, namun dapat dibaca dan menjadi inspirasi bagi orang lain.
  • Menurut saya, dengan saya menulis, anak-anak saya suatu hari nanti bisa mengerti kehidupan ayahnya pada masa dahulu dan kejadian-kejadian yang pernah dialaminya sehingga anak-anak saya dapat mengambil pelajaran berharga dari pengalaman ayahnya. (sok bijak)
  • Seseorang memicu saya dengan berkata: "Kamu bikin blog ajah, tulisan-tulisan kamu aku liat kayanya lumayan bagus". cieee.
Mungkin anda pikir saya terlambat membuat sebuah blog pada saat usia sudah beranjak dewasa? Ya mungkin. Tapi daripada tidak mencoba sama sekali.


Oleh karena itu, hari ini, dengan resmi saya luncurnya, eh luncurkan, blog ini di hadapan bapak-bapak serta ibu-ibu sekalian!!!




Baiklah, untuk postingan-postingan awal mungkin saya akan mengcopy beberapa tulisan yang sudah saya buat di akun Facebook saya. Namun, ke depannya saya akan berusaha untuk rajin mengisi blog ini dengan hal-hal baru.
Mumpung belom telat, saya juga ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H bagi yang merayakan.